Elias Hj Idris
“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan. Kematian bakal mengingatkan kita bahwa waktu yang sangat berharga.

Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi tempoh waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya?

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakikatnya ia sedang menggiring dirinya ke jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1,

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Hirsi Ali, wanita somalia yang bangga jadi murtad.

Ketika tempoh waktu terbuang sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44,

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa? Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala kisah kehidupan. Apa dan siapa pun watak yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, selesai sudahlah permainan. Semua kembali kepada kehidupan yang sebenarnya.

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita lakonkan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.

Sebagus-bagusnya watak yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat watak sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berlakon sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, watak-watak itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa? Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Tak kira siapa pun dia? Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata, semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu semata-mata.

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir pun dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang.

Lalu, masih layakkah kita membangga diri ketika kita meraih kejayaan? Masih patutkah kita membangga-banggakan harta yang dimiliki? Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan akan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Ternyata, semua hanya lakonan. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika lakonan selesai, harta milik itu pun kembali kepada Allah swt. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa? Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan lakonan yang pernah kita mainkan.

Kematian mengingatkan bahwa hidup ini sementara. Kejayaan dan pencapaian kadang-kadang menghanyutkan manusia kepada sebuah khayalan bahwa dia akan hidup selama-lamanya; sampai bila-bila. Seolah dia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan yang ada di sekelilingnya.

Ketika kematian mulai datang menjengah berupa rambut yang semakin beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin kerepott, barulah dia tersadar. Bahawa, segala-galanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

Selepas menjalani hukuman pancung

Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga. Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan sentiasa sedar bahwa hidup ini teramat berharga. Hidup tak ubah seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan bersungguh-sungguh. Petani itu khuatir, dia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.

** Petikan daripada: Santritafaqquhfiddin (Daarut-Tauhid, Jakarta).
1 Response
  1. Anonymous Says:

    Kematian sebagai satu nasihat kepada yg maseh hidup,
    Kehidupan Baru satu kesedaran kepada yg telah mati....